Kelebihan Asesmen Otentik: Penjelasan dan Jenis Asesmen Otentik


Hai teachers… Sebelumnya penulis sempat berbagi pengetahuan mengenai pengertian asesmen, asesmen tradisional, dan asesmen otentik (Bagi teachers yang belum membaca bisa klik di sini) dan artikel mengenai asesmen tradisional beserta jenisnya (Bagi teachers yang belum membaca bisa klik di sini). Pada tulisan kali ini, penulis ingin membahas secara mendalam mengenai asesmen otentik. Check this out…!!!

Asesmen otentik adalah suatu bentuk tugas yang menghendaki siswa untuk bisa menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, di mana hal ini merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Asesmen otentik menekankan kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara bermakna dan nyata. 

Kelebihan asesmen otentik ini adalah kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan yang telah diketahui pembelajar, melainkan kinerja secara nyata dari pengetahuan yang telah dipahami dan dikuasai.


Selain itu kelebihan yang lainnya adalah mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan adalah salah satu tujuan asesmen otentik. Misalnya, penugasan kepada pembelajar untuk membaca berbagai teks aktual-realistik, menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Dalam kegiatan itu, baik materi pembelajaran maupun penilaiannya terlihat atau bahkan memang alamiah. Jadi, asesmen model ini menekankan pada pengukuran kinerja, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoretis.

Asesmen ini lebih menuntut pembelajar mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengkreasikan jawaban atau produk. Siswa tidak sekedar diminta merespon jawaban seperti dalam tes tradisional, melainkan dituntut untuk mampu mengkreasikan dan menghasilkan jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan teoretis. Dalam penilaian kemampuan bersastra misalnya, pembelajar mampu menganalisis karakter tokoh dalam sebuah fiksi, mempertanggungjawabkan kinerjanya tersebut secara argumentatif, membuat resensi teks kesastraan, dan lain-lain. Berikut ini merupakan prosedur penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur ketrampilan pemecahan masalah siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Tujuan Pembelajaran:

  1. Siswa memberikan jawaban benar-salah tentang prosedur yang terbaik untuk memecahkan masalah dalam kelompok.
  2. Siswa diminta membuat rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana cara memecahkan masalah secara kolaborasi, kemudian diminta untuk memberikan jawaban singkat terhadap pertanyaan itu.
  3. Siswa diberikan masalah baru, kemudian diminta untuk menulis essay yang berhubungan dengan bagaimana kelompok itu harus bekerja menyelesaikan masalah itu.
  4. Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah. Guru mengamati dan menilai usahanya.


Pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia, maka dari itu dalam tataran yang lebih operasional dapat dikatakan bahwa tuntutan pendidikan adalah terbentuknya kompetensi pada peserta didik (terlepas dari apakah kurikulum yang sekarang tetap digunakan atau diganti, tetapi pembentukan kompetensi adalah merupakan suatu keharusan). Untuk itu, perlu dilakukan pembenahan dalam praktik pembelajaran di sekolah, termasuk praktek asesmennya. Asesmen otentik sebagai asesmen berbasis kompetensi merupakan asesmen yang dilakukan untuk mengetahui kompetensi seseorang. Kompetensi adalah atribut individu peserta didik, oleh karena itu asesmen berbasis kompetensi bersifat individual; sehingga ia disebut asesmen berbasis kelas. Untuk memastikan bahwa yang diases tersebut benar-benar adalah kompetensi riil individu (peserta didik) tersebut, maka asesmen harus dilakukan secara otentik (nyata, riil seperti kehidupan sehari-hari). Asesmen otentik bersifat on-going atau berkelanjutan, oleh karena itu asesmen harus dilakukan kepada proses dan produk belajar. Dengan demikian, asesmen berbasis kompetensi memiliki sifat otentik, berkelanjutan, dan individual.

Sifat-sifat asesmen berbasis kompetensi tersebut mengindikasikan bahwa jenis tes objektif (seperti tes pilihan ganda, benar-salah, dan lain-lain) yang dimasa lalu mendominasi penilaian di sekolah tidak lagi relevan saat ini. Sudah saatnya (dan secepat mungkin) proses pembelajaran ditopang secara kukuh dengan penggunaan asesmen otentik.

Adapun jenis asesmen otentik ini adalah sebagai berikut:

  • asesmen kinerja
  • asesmen diri
  • asesmen portofolio
  • projek, dll

Related Posts:

Kelebihan Asesmen Tradisional: Pengertian dan Jenis Asesmen Tradisional

Hai teachers…Pada artikel sebelumnya penulis sempat berbagi pengetahuan mengenai pengertian asesmen, asesmen tradisional, dan asesmen otentik (Bagi teachers yang belum membaca bisa klik di sini). Pada kesempatan kali ini, penulis ingin membahas lebih dalam mengenai asesmen tradisional. Check this out…!!!


Menurut Muller (2008), asesmen tradisional adalah penilaian yang mengacu pada memilih sebuah respon dan lebih pada mengukur ingatan siswa terkait dengan informasi yang didapat. Hal ini dapat dilakukan melalui pengukuran tes pilihan ganda (multiple-choices), tes melengkapi (cloze test), tes benar salah (true-false), menjodohkan (matching) dan semacamnya. Siswa secara khas memilih suatu jawaban atau mengingat informasi untuk melengkapi penilaian.


Terdapat beberapa ciri-ciri asesmen tradisional diantaranya adalah :
  1. Penilaian dilakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.
  2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa.
  3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa.
  4. Dapat diskor dengan reliabilitas tinggi.
  5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor.

Manfaat asesmen tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung.
  2. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
  3. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remidial.
  4. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
  5. Untuk memberikan pilihan alternatif penilaian guru.
  6. Untuk memberikan informasi kepada orangtua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.

Kelebihan dari asesmen tradisional diantaranya adalah :
  1. Dapat digunakan untuk mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
  2. Dapat digunakan untuk memonitor kemajuan siswa,
  3. Dapat digunakan untuk menentukan jenjang kemampuan siswa,
  4. Dapat digunakan sebagai penentu efektivitas pembelajaran,
  5. Dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja guru kelas,
  6. Dapat digunakan untuk mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru

Adapun jenis-jenis asesmen tradisional yang sering digunakan hingga saat ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pilihan Ganda (Multiple-Choices)
Soal bentuk pilihan ganda adalah soal yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban adalah jawaban yang benar atau jawaban yang paling benar. Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang untuk terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahan/materi pelajaran dengan baik.

Isian Singkat (Short Answer)
Soal isian singkat adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban yang singkat, berupa akata, frase, angka, atau symbol. Keunggulan dari bentuk soal ini adalah dapat mencakup materi yang luas dan banyak serta dapat diskor dengan mudah, cepat, obyektif, serta mudah dalam menyusunnya. Akan tetapi, model soal ini cenderung hanya mengukur kemampuan mengingat saja.

Soal Betul-Salah (True-False)
Bentuk soal ini menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan jawaban. Bentuk kemungkianan jawaban yang sering digunakan adalah benar-salah atau ya-tidak. Keunggulan dari soal model ini adalah mampu mengukur berbagai jenjang kemampuan kognitif, dapat mencakup materi yang luas, serta dapat diskor dengan mudah, cepat dan obyektif.

Soal Menjodohkan (Matching)
Soal bentuk menjodohkan terdiri dari dua kelompok pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada jalur sebelah kiri, biasanya mengandung pernyataan soal atau pernyataan stimulus. Kelompok kedua ditulis pada lajur sebelah kanan, biasanya merupakan pernyataan jawaban atau respon.

Baca juga

Related Posts:

Pengertian Asesmen, Asesmen Tradisional, dan Asesmen Otentik


Hai teachers… Dalam mengajar teachers sekalian akan bergelut dengan apa yang disebut dengan asesmen baik itu asesmen tradisional maupun asesmen otentik. Namun, dalam kenyataannya banyak pengajar yang menerapkan asesmen tetapi tidak mengetahui apa sebenarnya asesmen itu dan asesmen apa yang mereka gunakan. Dalam kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengetahuan mengenai asesmen khususnya asesmen tradisional dan otentik. Check this out…!!!

Asesmen adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mengetahui informasi mengenai suatu obyek (O’Malley & Pierce, 1996). Jika dikaitkan dengan pengajaran, obyek ini sering dikaitkan dengan salah satunya adalah siswa. Jadi Asesmen di sini bisa di artikan sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar siswa, sikap siswa, perasaan siswa dalam belajar, kemampuan siswa, dan segala hal mengenai siswa itu sendiri dalam pembelajaran.


Dewasa ini dalam melakukan asesmen terkait pembelajaran, guru sering kali menggunakan asesmen tradisional dan asesmen otentik. Lalu apa itu asesmen tradisional dan asesmen otentik?

Menurut Muller (2008), asesmen tradisional adalah penilaian yang mengacu pada memilih sebuah respon dan lebih pada mengukur ingatan siswa terkait dengan informasi yang didapat. Hal ini dapat dilakukan melalui pengukuran tes pilihan ganda (multiple-choices), tes melengkapi (cloze test), tes benar salah (true-false), menjodohkan (matching) dan semacamnya. Siswa secara khas memilih suatu jawaban atau mengingat informasi untuk melengkapi penilaian.

Terdapat beberapa ciri-ciri asesmen tradisional diantaranya adalah :

  1. Penilaian dilakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.
  2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa.
  3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa.
  4. Dapat diskor dengan reliabilitas tinggi.
  5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor.

Sedangkan, asesmen otentik merupakan suatu bentuk tugas yang menghendaki pembelajar untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Asesmen otentik menekankan kemampuan pembelajar untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan yang telah diketahui pembelajar, melainkan kinerja secara nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai.

Salah satu tujuan asesmen itu adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada pembelajar untuk membaca berbagai teks aktual-realistik, menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Dalam kegiatan itu, baik materi pembelajaran maupun penilaiannya terlihat atau bahkan memang alamiah. Jadi, asesmen model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoretis.

Related Posts:

Recount Text: Penjelasan dan Contoh Text

Hai teachers… Pasti teachers sekalian tidak asing ketika mendengar kata recount text? Yap. Recount Text adalah salah satu dari jenis teks bahasa Inggris yang menceritakan kembali kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman di masa lampau. Tujuan dari Recount Text adalah untuk memberikan informasi atau untuk menghibur pembaca. Di dalam Recount Text tidak terdapat komplikasi (Complication) seperti halnya di Narrative Text. Kali ini Penulis ingin berbagi mengenai penjelasan recount dan link unduhan contoh recount text. Check it out!

Dari kesekian genre yang ada, recount merupakan genre yang menceritakan mengenai pengalaman di masa lampau yang disampaikan secara berurutan. Istilah recount sendiri berasal dari bahasa Prancis conter yang memiliki arti yaitu menghitung ulang. Selain itu kata ini juga berarti menceritakan sebuah cerita. Oleh karena itu, recount  adalah salah satu dari jenis teks  yang menceritakan kembali kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman di masa lampau.


Recount text memiliki tujuan komunikatif untuk melaporkan peristiwa, kejadian atau kegiatan dengan tujuan memberitakan atau menghibur tentunya tanpa ada konflik di dalam cerita tersebut. Adapun kegiatan, peristiwa, atau kejadian ini disampaikan secara berurutan.

Adaun bagian dari recount text ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Orientation
Bagian ini merupakan bagian pengenalan yaitu memberikan informasi tentang siapa, di mana, dan kapan peristiwa atau kegiatan itu terjadi di masa lampau. 

  • Events
Bagian ini merupakan rekaman peristiwa yang terjadi yang disampaikan secara berurutan atau dalam urutan kronologis. Di bagian Events ini juga biasanya terdapat komentar pribadi mengenai peristiwa atau kejadian yang diceritakan.

  • Reorientation
Bagian ini biasanya berisikan mengenai pengulangan pengenalan yang ada di Orientation, pengulangan yang merangkum rentetan peristiwa, kejadian atau kegiatan yang diceritakan. Terkadang juga pada bagian ini berisikan evaluasi atau nilai-nilai apa yang ingin kita sampaikan melalui peristiwa yang telah kita sampaikan.
 
Ciri Kebahasaan Recount Text
Recount text memiliki beberapa ciri-ciri kebahasaan yang mungkin akan teachers temukan ketika membaca sebuah Recount Text. Ciri-ciri kebahasaan dari Recount Text tersebut adalah:
  • Menggunakan Past Tense. Misalkan we went to zoo, I was happy, etc.
  • Menggunakan Conjunction dan Time Connectives untuk mengurutkan peristiwa atau kejadian. Misalnya and, but, the, aftar that, etc.
  • Menggunakan Adverbs dan Adverbial Phrase untuk mengungkapkan tempat, waktu dan cara. Misalkan yesterday, at my house, slowly, etc.
  • Menggunakan Action Verbs. Misalkan went, slept, run, brought, etc.

Nah ini dia link unduhan yang bisa teachers unduh sebagai bahan ajar mengenai materi recount. Materi ini dapat teachers kembangkan lagi sesuai kebutuhan teachers sekalian.

Related Posts: