Penjelasan Behaviorisme dan Kognitivisme dalam Pembelajaran Bahasa


Hai teachers… Sebagai seorang guru bahasa Inggris, kita mengajarkan pembelajaran bahasa kepada siswa-siswa kita. Namun, kita cenderung tidak terlalu mengetahui teori apa saja yang berpengaruh dalam pembelajaran bahasa yang telah berkembang selama ini. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin membahas mengenai aliran empirisme dan rasionalisme khususnya mengenai behaviorisme dan kognitivisme. Check this out…!!!

Salah satu bentuk aliran empirisme yang berpengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa adalah teori behavioristik. Diilhami oleh teori Darwin yang mengimplikasikan  adanya hubungan antara manusia dengan hewan,  maka ada pula kesamaan antara pikiran (mind) manusia dengan hewan. Lahirnya psikologi eksperimental yang banyak melakukan penelitian terhadap hewan  menghasilkan asumsi bahwa suatu perilaku dapat dijelaskan dari jenis stimulus yang diberikan (stimulus-response bond); karena itu untuk  memunculkan suatu perilaku yang diinginkan secara konsisten yang disebut kebiasaan (habit formation), diperlukan adanya suatu proses pengkondisian (conditioning). Ada tiga tipe pengkondisian, yaitu (1) classical conditioning, (2) operant conditioning, dan (3) multiple response learning.



Di antara ketiga pengkondisian di atas, operant conditioning menentukan proses belajar bahasa. Dalam pandangan B.F. Skinner bahasa merupakan suatu sistem respon yang dipelajari manusia melalui proses pengkondisian otomatis. Pola-pola bahasa yang digunakan oleh masyarakat pemakai bahasa  akan mendapat penguatan, sedangkan yang tidak terpakai tidak mendapat penguatan.

Kelemahan teori ini adalah bahwa analisis terhadap proses belajar bahasa hanya didasarkan atas perilaku yang muncul (observable) saja. Chomsky yang dikutip Omaggio Hadley  mengatakan bahwa perilaku bahasa manusia sangat kompleks, dan tidak mungkin dijelaskan hanya melalui konsep stimulus-respon yang dikembangkan dari eksperimen-eksperimen terhadap hewan karena konsep ini tidak mampu menjelaskan properti bahasa yang bersifat kreatif. 

Sebagai reaksi terhadap teori behavioris muncul teori rasionalis. Teori-teori pembelajaran bahasa yang termasuk dalam kelompok teori rasionalis adalah teori nativis, teori mentalis, dan teori kognitif. Para rasionalis umumnya menolak anggapan bahwa bahasa merupakan semata-mata hasil pengalaman yang tercermin melalui pembentukan tingkah laku berbahasa, seperti yang diyakini oleh para behavioris. Menurut Chomsky, bahasa adalah species-specific dan merupakan kapasitas manusia yang bersifat genetik. Chomsky selanjutnya mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah membawa apa yang disebutnya dengan Language Acquisition Devices (LAD) yaitu kemampuan memproses bahasa yang mempunyai empat properti linguistik, yaitu: (1) kemampuan membedakan bunyi bahasa dari bunyi-bunyi lain, (2) kemampuan menyusun bahasa dalam suatu struktur bahasa, (3) kemampuan mengetahui apa yang mungkin ada dan tidak mungkin ada dalam struktur bahasa, dan (4) kemampuan membangun suatu sistem bahasa berdasarkan data kebahasaan yang diterima.

Bila Chomsky tidak mengatakan apakah teorinya cocok digunakan untuk pembelajaran bahasa kedua, maka Stephen Krashen mengatakan bahwa proses belajar bahasa kedua serupa (similar) dengan proses belajar bahasa pertama. Krashen mengajukan teori Monitor Model  yang terdiri atas lima hipotesis.

Kelima hipotesis tersebut adalah: (1) the acquisition-learning hypothesis, yaitu bahwa proses pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Pemerolehan (akuisisi) terjadi secara tak disadari, seperti yang terjadi pada proses pemerolehan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran (learning) disebut sebagai proses yang disadari untuk menguasai aturan-aturan kebahasaan yang berlaku, (2) the natural order hypothesis, yaitu bahwa bahasa dipelajari dalam tahapan atau susunan yang alamiah, artinya bahwa unsur bahasa yang lebih mudah akan dapat dipelajari terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lebih sulit, (3) the monitor hypothesis, bahwa kemampuan bahasa yang diperoleh melalui proses akuisisi menentukan kelancaran berbahasa (fluency), sedangkan aturan-aturan bahasa yang dikuasai melalui proses belajar berfungsi sebagai editor atau monitor ekspresi kebahasaan, (4) the input hypothesis, yaitu bahwa pembelajaran hanya terjadi bila terdapat input kebahasaan yang ‘comprehensible’ yakni tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah; dan (5) the affective filter hypothesis, yaitu adanya pengaruh faktor-faktor afektif seperti motivasi  dan rasa percaya diri yang baik serta tingkat kecemasan yang rendah.

Aliran rasionalis yang lebih menekankan pada faktor kognitif disebut Larsen-Freeman dan Long dalam Omaggio Hadley sebagai pandangan interaksionis dalam pembelajaran bahasa kedua, karena mereka menganggap bahwa baik faktor mental maupun lingkungan sama-sama berpengaruh, meskipun peranan faktor kognitif dianggap dominan. Berorientasi pada  Jean Piaget, teori kognitif menganggap bahwa proses belajar bahasa kedua merupakan akuisisi suatu keterampilan yang sangat kompleks yang terdiri atas banyak subketerampilan. Untuk menguasai bahasa dengan baik, semua subketerampilan tersebut harus dilatihkan, diotomatiskan, dipadukan, dan disusun dalam suatu representasi internal atau sistem aturan, yang secara terus-menerus disusun ulang sejalan dengan berkembangnya kemampuan berbahasa.

Related Posts:

0 Response to "Penjelasan Behaviorisme dan Kognitivisme dalam Pembelajaran Bahasa"

Post a Comment