Artikel Lainnya

Friday, July 19, 2019

Behaviorisme dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa

Hai teachers… kali ini saya akan membahas mengenai teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran bahasa. Meskipun teori ini adalah teori lama dan sudah banyak yang tidak menggunakannya, tidak ada salahnya untuk mengetahui teori ini untuk menambah pengetahuan teachers sekalian. So, check this out.

Teori belajar behaviorisme ini sangat dipengaruhi oleh karya-karya behaviorists terkenal seperti Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skinner. Namun saya akan membahas teori ini dari teori yang diajukan oleh Pavlov dan Skinner.




Mari kita mulai pembahasa dengan membahas Ivan petrovic pavlov atau dikenal dengan nama Pavlov psikolog yang berasal dari Rusia terlebih dahulu. Beliau pernah membuat ekseprimen dengan menggunakan anjingnya sendiri. Tiap hari anjingnya diberikan makan dan didahului dengan membunyikan bel tanda makanan disiapkan. Karena terbiasa mendengar bel tersebut, maka si anjing selalu mengeluarkan air liur yang menandakan bahwa anjing tersebut lapar. Kemudian, suatu hari Pavlov dengan sengaja hanya membunyikan bel saja tanpa memberikan makanan kepada anjingnya. Lalu apa yang terjadi? Anjing tersebut tetap mengeluarkan air liur yang menandakan bahwa ia lapar. Hal ini dikarenakan oleh faktor kebiasaan yang dijalani anjing tersebut dengan mendengarkan bunyi bel. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku organisme dapat dihasilkan melalui stimulus atau rangsangan yang tepat. Apabila rangsangan tersebut dikontrol secara berulang, maka dapat menghasilkan respon yang terkontrol pula. Oleh karenanya stimulus jenis ini disebut controlled stimulus dan respon yang dihasilkan disebut dengan controlled reponse. 

Eksperimen Pavlov ini kemudian dilanjutkan oleh B.F Skinner yang melakukan eksperimen dengan menggunakan tikus. Tikus miliknya diletakkan di dalam kotak (terkenal dengan sebutan Skinner box) dan diajarkan untuk memencet tombol yang ada di dalamnya. Setiap si tikus memencet tombol, maka akan keluar makanan. Hal ini terjadi berulang-ulang dikarenakan si tikus ingin makanan, maka ia memencet tombol tersebut. Maka, hal yang bisa diambil di sini adalah organisme akan melakukan sesuatu apabila ia diberikan rewards atau hadiah. Oleh karena itu, Skinner mengajukan teori yang disebut dengan reinforcements and punishment. Reinforcement itu ada dua yaitu positif dan negative. Reinforcement positif adalah hal-hal positif yang diberikan untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan untuk bisa terulang kembali. Misalnya dengan memberikan permen, makanan, atau hadiah-hadiah lainnya yang membuat orang mau mengulangi perilakuknya di kemudian hari. Lalu, reinforment negatif adalah mengurangi hal-hal negatif apabila orang yang diajar sudah melakukan hal yang kita harapkan. Misalnya, mengurangi marah-marah atau menghukum orang tersebut dikarenakan orang tersebut telah menunjukan perilaku yang kita inginkan. Sedangkan punishment adalah hukuman yang diberikan agar orang tersebut tidak mengulangi perbuatan yang tidak diharapkan dan malah menunjukan perilaku yang diharapkan. Oleh karena itu, jaman dulu ketika siswa salah mengucapkan bahasa akan diberikan hukuman agar siswa tersebut bisa menggunakan bahasa sampai benar. 

Kemudian apa kaitannya dengan pemerolehan bahasa? Bahasa diperoleh karena dilakukan berulang-ulang. Orang bisa berbahasa dikarenakan terbiasa dan dipergunakan sehari-hari. Oleh karena itu, para ahli behaviorisme beranggapan bahwa latihan terus menerus dengan menggunakan repetition, imitation, dan drilling adalah cara yang tepat agar orang yang diajar bisa terbiasa menggunakan bahasa yang diajarkan. Sebagai contoh seorang anak diberikan pertanyaan “How are you?” dan diajarkan menjawab “I am fine” dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Alhasil ini akan menjadi sebuah kebiasaan di mana ketika anak tersebut ditanya “how are you?”, maka akan otomatis dijawab “I am fine”. Hal ini sama hal nya dengan eksperimen Pavlov di mana anjingnya dilatih terus menerus untuk mendengarkan bel setiap akan diberikan makan. Eksperimen Pavlov dan Skinner memberikan sumbangsih terhadap cara-cara mengajar bahasa dengan cara imitating, copying, repeating, memberikan stimulus yang dibutuhkan, dan menerapkan reinforcement dan punishment. Oleh karena itu, teknik-teknik seperti ini masih banyak kita jumpai dalam pembelajaran bahasa Inggris di dalam kelas meskipun banyak ahli-ahli (khususnya ahli yang berasal dari US dan Australia yang kental dengan interaksionisme dan Konstruktivismenya) menyatakan bahwa behaviorisme tidak terlalu signifikan dalam pemerolehan bahasa. Nah sekarang, tergantung teachers sekalian bagaimana menilainya.

Nah itu dia pembahasan mengenai teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran bahasa. Semoga bisa membantu teachers sekalian.

No comments:

Post a Comment