Artikel Lainnya

Sunday, August 25, 2019

4:01 PM

Community Language Learning

Hai teachers... Apakah teacher dalam keadaan baik-baik saja? Semoga teachers sekalian dalam keadaan sehat agar bisa menyimak pembahasa kami kali ini. Pembahasan kami kali ini adalah kelanjutan dari pembahasan metode sebelumnya. Metode kali ini yang akan kami bahas adalah metode Community Language Learning (CLL). Apakah teachers sekalian familiar dengan metode ini? Jika belum, Let's check it out...


Community language learning ini merupakan bagian dari implementasi teori belajar kognitivisme dan konstruktivisme. Dikatakan sebagai bagian teori belajar kognitivisme karena metode ini, sama halnya dengan metode Silent Way dan Suggestopedia, percaya bahwa siswa yang mampu menggunakan kemampuan mental atau berpikirnya secara maksimal, maka akan mampu memperoleh hasil yang maksimal ketika belajar. Dikatakan sebagai bagian dari teori belajar konstruktivisme dikarenakan metode belajar ini mengajarkan siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri dan secara aktif belajar membangun pengetahuannya sendiri dan guru hanya bertugas sebagai fasilitator saja.


Penemu metode ini adalah Charles Curran yang merupakan seorang pendeta dan bergerak di bidang psikologi pembelajaran. Beliau percaya bahwa jika siswa mampu menghilangkan kecemasan-kecemasan dan merasa tenang dalam belajar, maka siswa dapat meraih hasil yang maksimal dalam belajar. Oleh karena itu, guru harus mampu membentuk komunitas belajar yang mampu membantu siswa mengatasi permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi ketika belajar. Selain itu, guru bertugas sebagai orang yang membantu memfasilitasi belajar siswa dengan cara bertindak sebagai "counselor" dan "knower". Sebagai "Counselor", guru membantu siswa mengatasi masalah psikologi dalam belajar. Sedangkan sebagai "Knower", guru membantu siswa apabila ada yang merak tidak ketahui.

Sebelum memulai pembelajaran, ada beberapa hal yang perlu teachers ketahui. Dalam CLL, tape recorder sangat diperlukan di mana akan ada kegiatan merekam dialog di dalam implementasi CLL ini. Kemudian, guru harus fasih dalam menggunakan bahasa target dan bahasa yang digunakan oleh siswa, dan siswa yang berada dalam kelompok haruslah mempunyai bahasa Ibu (Mother tongue) yang sama.

Lalu bagaimana penerapan CLL dalam pembelajaran di kelas? Guru bisa memulai dengan memberikan salam dan memperkenalkan topik. Kemudian guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil di mana di tiap kelompok disediakan tape recorder. Lalu, guru menjelaskan bahwa siswa akan merekam percakapan dengan bantuan guru. Kemudian guru menyuruh siswa merekam percakapan yang akan mereka susun bersama kelompok mereka. percakapan tersebut bisa mengenai topik apa saja. Apabila mereka ada pertanyan, mereka diharapkan untuk mengangkat tangan dan guru akan segera membantu mereka. Misalnya saja, kelompok siswa A mengalami kesulitan dengan membuat kalimat bahasa Inggris "Apa kamu ada masalah?" Kemudian guru menghampiri mereka dan berkata dalam bahasa Inggris "Did you find everything okay or Do you have any problems?". Inti dari kegiatan ini adalah guru membantu siswa menemukan bahasa Inggris yang tepat dalam dialog yang akan mereka rekam. Kemudian, mereka merekam dialog tersebut dan menuliskan transkripnya di papan tulis. Lalu guru berdiskusi dengan siswa akan masalah-masalah apa saja yang mereka hadapi. Jika tidak, maka kegiatan akan dilanjutkan dengan kegiatan lainnya dan guru akan bertugas sebagai "Counselor" dan "Knower" kembali.

Meskipun metode ini, secara orisinil jarang digunakan. Namun, esensi implementasi metode ini di mana guru bertugas sebagai "Counselor" dan "Knower" kini sangat sering diimplementasikan dalam pembelajaran yang menggunakan Student-center Approach dengan metode apapun. CLL inilah yang menginspirasi bahwa guru memang seharusnya bertugas sebagai fasilitator dan orang yang mampu membantu siswa mengatasi masalah psikologis mereka ketika belajar bahasa.

Nah itu dia pembahasan mengenai CLL. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat untuk teachers sekalian. Sampai jumpa di pembahasan kami selanjutnya.
2:52 PM

Suggestopedia

Hai teachers... Bagaimana kabarnya? Semoga teachers semua dalam keadaan baik-baik saja. Kali ini kita akan membahas mengenai Suggestopedia atau kadang disebut juga sebagai Desuggestopedia. Apakah teachers sekalian pernah mendengar nama metode ini? Jika belum, So, let's check it out.


Sama halnya seperti the Silent Way yang telah kita bahas sebelumnya, Suggestopedia ini merupakan metode yang populer di jamannya dan merupakan metode yang banyak dipengaruhi oleh teori belajar kognitivisme. Suggestopedia ini dikemukakan oleh ahli kognitivisme yang bernama Georgi Lozanov. Lozanov percaya bahwa pembelajaran yang mampu membuat siswa untuk menggunakan kekuatan mental atau pikiran mereka secara penuh akan sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajarannya. Oleh karena itu, untuk mencapai tahapan ini maka siswa perlu diberikan sugesti. Sehingga, nama metode ini kemudian diberikan nama Suggestopedia atau Desuggestopedia.


Ketika belajar bahasa, tantangan terbesar adalah ketika siswa berpikir bahwa mereka tidak bisa mempelajari bahasa target, tidak mampu menggunakan bahasa target dengan benar, serta tidak mampu mengaplikasikan bahasa target dalam situasi nyata. Pikiran-pikiran ini tentunya akan sangat mempengaruhi perkembangan belajar bahasa mereka. Oleh karena itu, Suggestopedia muncul dengan pemberian berbagai macam sugesti yang mampu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar bahasa target dan meningkatkan hasil pembelajarannya. Selain itu, suggestopedia menggunakan musik dalam memberikan sugesti dikarenakan Lozanov percaya bahwa musik akan sangat membantu siswa untuk meresapi informasi dalam proses pemberian sugesti. Selain itu, musik juga akan membuat siswa merasa santai dan tidak merasakan kecemasan dalam belajar.

Lalu bagaimana suggestopedia ini diimplementasikan di dalam pembelajaran di kelas? Sebelum memulai kelas suggestopedia, untuk meningkatkan pengaruh sugesti, maka kelas suggestopedia harus didesain dengan ornamen-ornamen yang mendukung. Misalnya saja, pembelajaran akan membahas mengenai "London". Maka kelas akan dihiasi dengan gambar atau ornamen lainnya yang berhubungan dengan London seperti gambar Big Ben, Tower Bridge, Coca Cola London Eye, dll. Setelah itu, kelas Suggestopedia bisa dimulai.

Suggestopedia ini dimulai dengan membahas topic yang akan diajarkan. Misalnya saja memberikan dialog dan membahas vocabulary yang ada di dalam dialog tersebut. Sebagai contoh, guru memberikan dialog mengenai "Traveling to London". Kemudian guru akan membahas mengenai vocabulary yang berkaitan dengan dialog tersebut untuk menambah pemahaman siswa akan dialog yang diberikan. Kemudian, guru bisa membahas hal-hal lainnya atau memberikan latihan-latihan lainnya yang mendukung. Lalu, kegiatan bisa dilanjutkan dengan memainkan musik-musik klasik seperti musik instrumental karya Mozart, Beethoven, dll bersamaan dengan pemberian sugesti dimana siswa diharapkan mendengarkan musik dan sugesti sambil memejamkan mata agar bisa menghayati sugesti yang diberikan. Sugesti-sugesti yang diberikan adalah bisa berupa kata-kata motivasi dan sugesti bahwa siswa sekarang sedang berada di suatu tempat, sedang melakukan sesuatu, atau hal-hal lainnya. Misalnya saja guru memberikan sugesti bahwa siswa-siswa kini sedang dalam perjalanan menuju London. Guru melanjutkan pemberian sugesti dengan menyemangati siswa bahwa sesampainya di London nanti mereka harus percaya diri menggunakan bahasa target agar bisa berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sana. Kemudian guru menyuruh siswa membuka mata sambil berkata bahwa mereka telah tiba di London. Lalu, kegiatan bisa dilanjutkan dengan kegiatan speaking di mana siswa ceritanya menjadi turis dan beberapa menjadi penduduk asli dan kemudian mereka bertanya-tanya bangunan-bangunan yang ada di London seperti Big Ben, Tower Bridge, Coca Cola London Eye, dll.

Nah itu dia penjelasan singkat mengenai suggestopedia. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat untuk teachers sekalian. Sampai jumpa di pembahasan kami selanjutnya.

Thursday, August 15, 2019

9:46 AM

The Silent Way

Hai teachers... Bagaimana kabar teachers sekalian? Kali ini kita akan membahas metode pembelajaran bahasa Inggris lainnya dan kali ini giliran metode The Silent Way yang akan kita bahas.  Karena ada kata silent, apakah metode ini berhubungan dengan berdiam diri di dalam kelas? mari kita bahas metode pembelajaran ini. So, let's check it out...!!!


Jika teachers sekalian masih ingat, sebelumnya kita membahas mengenai Audiolingual method (ALM). Silent way ini merupakan metode yang muncul sebagai protes terhadap ALM di mana banyak ahli mulai berpendapat bahwa kemampuan berbahasa bukanlah seperangkat kebiasaan yang bisa diterapkan begitu saja di dunia nyata. Noam Chomsky berpendapat bahwa metode-metode seperti  ALM yang mengedepankan pembentukan kebiasaan dalam penguasaan bahasa tidak terlalu signifikan dalam proses pemerolehan bahasa. Namun, proses berpikir lah yang sangat mempengaruhi proses pemerolehan bahasa. Pendapat-pendapat ini sangat erat kaitannya dengan kemunculan Cognitive Approach yang berkembang di kala itu. Oleh karenanya, pembelajaran bahasa saat itu mengalami perubahan di mana metode-metode belajar behaviorisme mulai tergantikan oleh metode-metode belajar kognitivisme.


Meskipun Silent Way (SW) dikatakan tidak termasuk dalam Cognitive Approach, tetapi prinsip-prinsip yang dianut oleh SW ini hampir-hampir mirip di mana Caleb Gattegno (Penemu SW) beranggapan bahwa mengajar berarti memfasilitasi proses pembelajaran dibandingkan dengan mendominasi kegiatan tersebut. Hal ini berarti siswa yang harus lebih aktif dibandingkan guru dalam proses belajar. Kemudian Gattegno berpendapat bahwa belajar itu merupakan sebuah inisiatif dan dalam belajar kita memanfaatkan kemampuan yang kita miliki meliputi persepsi, kesadaran, ingatan, imaginasi, intuisi, kreativitas, dll.

Metode Silent Way ini banyak menggunakan media-media seperti word chart, sound-colors chart, caption, gambar, realia, dll. Terlebih lagi, dalam penerapan Silent Way ini, guru harus lebih banyak diam dan hanya banyak menggunakan gestures dalam mengajar. Apabila siswa salah, diharapkan siswa mampu melakukan self-correction atau temannya bisa membenarkan kesalahan yang dilakukan oleh siswa tersebut.

Lalu bagaimana Silent Way ini diterapkan? Mari kita simak penjelasan berikut ini. SW bisa dimulai dengan guru tidak berbicara apapun tetapi menunjuk beberapa benda seperti warna hijau dan gambar apel. Siswa diharapkan untuk mampu menginterpretasikan apa yang dilakukan oleh guru. Guru akan terus menerus mengulang menunjuk warna hijau dan apel apabila siswa masih saja salah menjawabnya atau tidak menjawab sekalipun. Jika masih saja seperti itu, guru bisa memberikan clue dengan berkata "there is a green apple". Kemudian guru melanjutkan dengan menunjukkan kombinasi benda-benda lainnya. Misalnya saja guru menunjuk warna merah, gambar buku dua kali, dan meja yang mengacu pada "there are two red books on the table". Jika siswa salah menerka maksud guru, maka guru akan terus menunjuk benda-benda tersebut sambil memberikan ekspresi yang tidak senang yang menunjukan bahwa apa yang dijawab oleh siswa adalah salah.

Nah itulah penjelasan secara singkat mengenai impelemntasi SW. Meskipun kini SW jarang digunakan dalam pembelajaran bahasa karena menimbulkan kebingungan dalam diri siswa ketika belajar, namun teachers sekalian juga perlu mengetahui metode ini. Semoga pengetahuan teachers sekalian semakin bertambah dan bisa menjadi guru bahasa Inggris profesional.


Sunday, August 11, 2019

9:43 AM

The Audio Lingual Method

Hai teachers... Apakah teachers sekalian dalam keadaan baik-baik saja? kali ini kita akan melanjutkan pembahasan kita mengenai metode pembelajaran bahasa dan yang akan kita bahas kali ini adalah The Audio Lingual Method. Apakah teachers sekalian familiar dengan metode ini? Jika belum, mari kita bahasa metode pembelajaran bahasa ini.

Sama seperti The Direct Method (DM) yang kita sudah pernah bahas sebelumnya, The Audio Lingual Method atau kerap disebut dengan ALM ini memiliki fokus terhadap komunikasi verbal. Oleh karena itu, kemampuan berbicara sangat dipentingkan dalam implementasi ALM. ALM ini berkembang dan banyak digunakan di sekitar tahun 1950an dan 1960an. ALM ini memiliki banyak persamaan dengan DM namun juga memiliki perbedaan. adapun perbedaan yang mendasar adalah DM selain berfokus pada pengembangan kemampuan komunikasi secara verbal, DM juga fokus pada pembelajaran kosakata. Sedangkan dalam ALM, selain berfokus pada pengembangan kemampuan komunikasi secara verbal, ALM berfokus pada implementasi grammar bahasa target. Meskipun ALM telah dibuktikan tidak terlalu signifikan dalam mempengaruhi pemerolehan bahasa, namun metode ini masih sering dipakai oleh para pengajar bahasa karena masih dianggap relevan untuk situasi tertentu.


ALM ini sangat dipengaruhi oleh teori B.F Skinner yang percaya mengenai penggunaan reinforcement dalam pembelajaran. Selain itu, ALM ini juga sangat dipengaruhi oleh teori belajar behaviorisme sangat berpengaruh kala itu. Oleh karena itu, latihan-latihan seperti drilling, repeating, copying, dan imitating sangat banyak digunakan dalam implementasi ALM. Teknik-teknik tersebut sangat dipercaya mampu membantu penguasaan bahasa siswa dalam waktu yang cepat karena para penganut ALM percaya bahwa pembelajaran bahasa adalah pembentukan kebiasaan. Orang bisa berbahasa karena terbiasa.


Implementasi ALM biasanya diawali dengan memberikan dialog kepada para siswa di mana guru akan membaca dialog kemudian siswa mengikuti yang diucapkan oleh guru. Kemudian, siswa akan membaca dialog tersebut secara bergantian. Misalnya saja, satu baris siswa memerankan A dan satu baris lainnya memerankan B. Kemudian, peran tersebut dibalik di mana yang tadinya membaca dialog A kemudian kini membaca dialog B. Terkadang, guru akan membacakan tiap baris terlebih dahulu baru siswa mengikuti ucapan guru dalam membacakan dialog apabila dirasa siswa masih perlu contoh dalam membacakan dialog. Lalu, guru akan menyuruh siswa untuk memerankan dialog tersebut bersama rekannya. Kemudian, pembelajaran bisa dilanjutkan dengan membahas vocabulary yang terdapat di dalam dialog dengan memperkenalkan bagaimana vocabulary tersebut bisa diimplementasikan dalam sebuah kalimat. Lalu, siswa akan diberikan daftar vocabulary yang bisa diimplementasikan dengan pola grammar yang telah diajarkan sebelumnya. Sebagai contoh, guru menunjukan kata "school" dan berkata "I go to school by motorcycle". Kemudian, guru akan menunjukan kata lainnya seperti "post office" dan siswa harus berkata "I go to post office by motorcycle" lalu guru menunjukan kata hospital dan siswa berkata "I go to hospital by motorcycle" begitu seterusnya.

Nah itu dia pembahasan singkat mengenai ALM. Semoga artikel ini mampu membantu teachers sekalian untuk mengembangkan kemampuan pedagogi teachers sekalian.

Saturday, August 10, 2019

7:51 AM

The Direct Method

Hai teachers... bagaimana kabar teachers sekalian? Semoga selalu dalam keadaan baik. Kali ini kita akan membahas mengenai The Direct Method. Apakah teachers sekalian familiar dengan nama metode ini? atau bahkan teachers sekalian sudah menerapkannya dalam pengajaran? Jika belum, mari kita simak pembahasannya.



The Direct Method atau sering disebut dengan DM ini muncul dan berkembang di tahun 1890an sebagai respon terhadap praktek penggunaan Grammar Translation Method (GTM) kala itu. GTM selama perkembangannya tidak mampu membawa hasil yang signifikan dalam pembelajaran bahasa. Selain itu, GTM tidak mengajarkan siswa untuk komunikatif dalam menggunakan bahasa target karena GTM hanya mengajarkan bahasa target dan tidak mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan bahasa target. Oleh karena itu, DM muncul dengan membawa praktek-praktek baru dalam pengajaran bahasa, khususnya bahasa Inggris. Sesuai dengan namanya di mana direct berrarti langsung, DM ini bermaksud untuk mengajarkan siswa menggunakan bahasa secara langsung. Semakin sering siswa berkomunikasi dengan bahasa target, maka akan semakin lancar siswa bisa menggunakannya.


DM menekankan pada pembelajaran speaking dan listening namun reading dan writing juga tetap diajarkan ketika mengajar bahasa. Dalam praktek-praktek DM ketika mengajarkan bahasa, terjemahan tidak diperbolehkan sama sekali seperti yang kerap dilakukan melalui implementasi GTM. Lebih jauh, bahasa Ibu (mother toungue) tidak diperbolehkan sama sekali untuk digunakan ketika implementasi DM dan seluruh komunikasi di dalam kelas dilakukan dengan menggunakan bahasa target dan grammar tidak diajarkan secara eksplisit namun secara implisit. Kemudian dalam implementasi DM, kosakata (vocabulary) dijelaskan melalui penggunaan media visual seperti flashcards, gambar, realia, caption bergambar, dll. Lebih jauh, penggunaan teknik-teknik seperti repetition, copying, dan imitating banyak digunakan dalam implementasi DM karena DM ini sendiri merupakan metode yang sangat dipengaruhi oleh teori belajar behaviorisme.

DM merupakan salah satu metode yang tergolong dalam teacher/learner-centered di mana guru yang paling banyak menggunakan bahasa di dalam kelas dibandingkan dengan siswa yang diajarkan. Kemudian, guru kerap memberikan pertanyaan untuk membangun komunikasi dengan siswa dan siswa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan pola atau struktur yang benar dan lengkap. Oleh karena itu, dalam DM, siswa harus mengetahui mengenai pola-pola kalimat dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dengan benar dan lengkap. Lalu, materi-materi yang dibahas dalam DM adalah materi-materi otentik dengan menggunakan bahasa target seperti going to the doctor, shopping, going to the post office, dll.

Contoh penerapan DM dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam implementasi DM, guru bisa memulai dengan membahas suatu topic secara verbal atau dengan memberikan siswa sebuah teks. kemudian guru akan mengajarkan kosakata kepada siswa dan menjelaskan dengan bahasa target. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan membaca teks tersebut. Lalu, guru akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya akan informasi terkait dengan teks dengan menggunakan bahasa target. Jika siswa tidak ada yang bertanya, maka guru akan bertanya mengenai informasi di dalam teks dengan menggunakan bahasa target dan siswa harus menjawab dengan struktur yang lengkap dalam menjawab pertanyaan guru.

Nah itu dia penjelasan singkat mengenai DM. semoga penjelasan singkat ini mampu menambah pemahaman dan profesionalisme teachers sekalian dalam mengajar bahasa Inggris.

Thursday, August 8, 2019

2:18 PM

Grammar Translation Method

Hai teachers sekalian... Bagaimana kabar teachers sekalian? semoga teachers dalam keadaan baik sehingga bisa membaca materi kali ini yang membahas mengenai Grammar Translation Method atau kerap disebut sebagai GTM. Pasti teachers sekalian tidak asing lagi dengan sebutan GTM ini. Jika belum pernah mendengarnya, maka mari kita bahas...

Grammar Translation Method ini bukanlah metode baru dalam pembelajaran bahasa Inggris. Meskipun metode ini memiliki banyak nama, namun metode ini banyak digunakan oleh pengajar bahasa di seluruh dunia dan selama sekian tahun. Metode ini juga hingga saat ini masih digunakan oleh beberapa pengajar karena dianggap masih bisa diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa. Namun, sudah dibuktikan oleh banyak ahli bahwa GTM tidak terlalu signifikan membantu penguasaan bahasa. Namun tetap menarik untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa.


GTM ini awalnya disebut sebagai Metode Klasik (Classical Method) karena metode ini dulunya diperuntukan untuk mengajarkan bahasa-bahasa klasik seperti bahasa latin dan greek. Namun, dalam perkembangannya, metode ini dipergunakan untuk mengajarkan bahasa, khususnya bahasa Inggris. Kemudian, metode ini dipergunakan untuk membantu siswa dalam kegiatan membaca dan menghargai literatur-literatur asing. Lalu, melalui penerapan metode ini, diharapkan bahwa siswa bisa familiar terhadap grammar atau struktur bahasa yang dipelajari. Apabila siswa sudah merasa familiar terhadap grammar bahasa target, diharapkan mereka bisa memperbaiki kualitas berbicara dan menulis mereka dalam bahasa tersebut.

Lalu, bagaimanakah penerapan GTM ini dalam pembelajaran bahasa? Metode ini sering menggunakan tulisan-tulisan atau teks yang banyak digunakan dalam dunia nyata. Biasanya, tulisan atau teks tersebut akan disajikan bersama daftar kosakata (vocabulary) yang terdapat di dalam tulisan atau teks tesebut untuk membantu siswa memahami isi tulisan. Kemudian, ketika membaca teks tersebut, maka struktur bahasa dari teks tersebut akan dibahas terlebih dahulu agar siswa-siswa paham dan dilanjutkan dengan mengambil contoh-contoh kalimat dari tulisan atau teks tersebut. Lalu, kegiatan dilanjutkan dengan menerjemahkan tulisan atau teks tersebut ke dalam bahasa Ibu (mother tongue). Namun, dalam prosesnya, banyak juga yang menggunakan GTM ini sebagai latihan menerjemahkan dari bahasa target ke bahasa Ibu atau dari bahasa Ibu ke bahasa target.

Nah itu dia penjelasan singkat mengenai Grammar Translation Method, semoga penjelasan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman teachers sekalian akan pedagogi bahasa Inggris dan bisa menjadi professional teachers.

Tuesday, July 23, 2019

7:36 AM

Konstruktivisme dan Pengaruhnya terhadap Pembelajaran Bahasa

Hai teachers... Apakah teachers sekalian pernah mendengar teori belajar konstruktivisme? Jika belum, maka ini saat yang tepat untuk menjelaskan apa teori belajar konstruktivisme dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa. So, check it out...



Dari asal katanya, konstruktivisme ini berasal dari kata konstruk yang artinya membangun. Jadi dalam konstruktivisme, otak dan pikiran siswa akan selalu menyusun pengetahuan secara aktif dan lingkungan berperan besar dalam proses belajar siswa. Teori belajar konstruktivisme ini merupakan salah satu cabang dari teori kognitivisme dan bahkan ada yang mengatakan bahwa teori ini adalah teori kognitivisme yang dikembangkan. Oleh karena itu, keduanya hampir-hampir mirip dan percaya bahwa otak dan pikiran manusia berperan besar dalam proses belajar.

Ketika membahas teori belajar konstruktivisme, maka tidak akan lepas dari ahli-ahli seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Keduanya merupakan kognitivist yang kemudian dijadikan sebagai bapaknya konstruktivisme. hal ini dikarenakan teori-teori mereka digunakan sebagai landasan teori belajar konstruktivisme yaitu lebih mementingkan pada interaksi sosial dalam proses belajar.


Pertama-tama, akan kita bahasa teori belajar dari Jean Piaget terlebih dahulu. Menurut Jean piaget, perkembangan pikiran anak mencakup empat tahapan yaitu tahapan sensori motor (0-2 tahun) di mana tahapan ini anak baru mengenal objek dan mengenal nama-nama benda. Kemudian tahapan preoperasional (2-7 tahun) di mana perkembangan bahasa anak berkembang sangat pesat pada masa ini. Masa ini juga dikenal sebagai masa kritis perkembangan bahasa atau critical period yang dipercayai bahwa anak sangat cepat belajar bahasa pada tahapan ini. Lalu, tahapan operasional konkret (7-11 tahun) di mana pada tahapan ini anak sudah lancar berbahasa dan mengemukakan apa yang ia ketahui, namun masih kesulitan memahami atau menjelaskan hal-hal yang bersifat abstrak. Tahapan yang terakhir adalah tahapan operasional formal (11-15 tahun) di mana pada tahapan ini perkembangan pikiran anak sudah semakin sempurna seperti orang dewasa, sehingga mereka bisa memahami dan menjelaskan hal-hal konkret dan abstrak. dari keseluruhan tahapan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan bahasa anak sesuai dengan perkembangan pikiran mereka dan semakin berkembangnya pikiran anak, maka kemampuan berbahasanya pun semakin berkembang. Selain itu Piaget juga berpendapat bahwa anak belajar memahami apa yang ada di sekitarnya melalui proses adaptasi yang mencakup proses asimilasi dan akomodasi. Ketika anak menemukan sesuatu atau menghadapi sesuatu, maka ia akan melakukan proses asimilasi, yaitu menghubungkan apa yang mereka sedang hadapi dengan informasi yang mereka miliki. Apabila mereka tidak memiliki informasi tersebut, maka mereka akan mempelajari informasi tersebut melalui proses akomodasi untuk membangun skema informasi yang ada di pikiran mereka. Oleh karena itu, proses asimilasi dan akomodasi ini sangat berperan penting ketika siswa belajar untuk memahami dan membangun pengetahuannya, termasuk ketika belajar bahasa di mana kedua proses ini sangat membantu mereka untuk menyempurnakan penggunaan bahasa mereka.

Mari kita bahas teori belajar dari Lev Vygotsky. Lev Vygotsky mengajukan sebuah teori yang dikenal dengan nama Zone of Proximal Development (ZPD) di mana ZPD adalah zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual terlihat dari kemampuan anak menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugasnya secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial bisa dilihat dari dari kemampuan anak menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah dengan bantuan orang dewasa. Ketika masuk dalam ZPD, maka anak tersebut sebenarnya bisa melakukan apa yang diharapkan kepada mereka untuk bisa dilakukan, tetapi akan lebih optimal jika orang dewasa atau pendamping yang lebih tahu dan bisa, membantunya untuk mencapai tingkat perkembangan aktual. Kemudian bantuan dari orang dewasa tersebut yang disebut dengan "Scaffolding". Oleh karena itu, hal ini juga berpengaruh terhadap pembelajaran bahasa di mana anak diharapkan bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kemampuannya lebih dibandingkan mereka misalnya orang yang lebih dewasa agar mereka bisa belajar dari orang-orang ini dan mampu mengembangkan kemampuan berbahasa mereka.

Kemudian apa sumbangsih kedua teori tersebut terhadap pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Inggris? Para pendidik percaya bahwa perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan otak atau pikiran mereka, sama seperti yang telah kita bahasa dalam teori kognitivisme di artikel sebelumnya. Oleh karena itu, pada masa-masa tertentu seperti masa kritis atau critical period, adalah masa emas anak belajar bahasa. Oleh karenanya, pengajar akan berusaha semaksimal mungkin mengajar bahasa pada tahapan ini. Para pendidik juga percaya bahwa untuk mengembangkan bahasa anak, maka anak perlu lebih sering berinteraksi untuk perkembangan bahasa mereka. Oleh karena itu latihan-latihan seperti roleplay, performing dialog, conversation, groupwork, peer activity, sangat dipercaya mampu mengembangkan perkembangan bahasa anak. Kemudian, pendidik juga percaya bahwa mereka hanya bertugas sebagai fasilitator dan sebagai yang memberikan bantuan dalam perkembangan bahasa anak karena sisanya anak sendirilah yang secara aktif membangun pengetahuannya sendiri dan mengasah kemampuan bahasa mereka melalui pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu, banyak orang berpendapat bahwa pengalaman adalah guru yang berharga.

Nah itu dia pembahasan singkat kita mengenai teori belajar konstruktivisme dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan teachers sekalian.

Saturday, July 20, 2019

10:05 AM

Kognitivisme dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa

Hai teachers... Pastinya teachers sekalian pernah mendengar teori belajar kognitivisme. teori belajar ini adalah teori yang menekankan pada kemampuan kognitif seseorang dalam belajar. Nah, bagaimana kaitannya dengan pembelajaran bahasa? Check it out...!!!


Teori belajar kognitivisme ini awalnya  merupakan protes terhadap teori belajar behaviorisme yang berkembang pesat saat itu. banyak yang beranggapan bahwa orang bisa melakukan sesuatu buka karena dia dilatih terus-menerus. Namun, orang bisa melakukan sesuatu dikarenakan orang memiliki kemampuan berpikir yang mampu membuat orang tersebut bisa melakukan sesuatu. Pandangan ini juga sangat berpengaruh terhadap pembelajaran bahasa di mana ahli kognitivisme beranggapan bahwa anak bisa berbicara atau menggunakan bahasa karena otak mereka lah yang membuat mereka bisa melakukannya (Dalam pembelajaran bahasa pandangan ini kadang dikenal dengan teori innatism/inatisme). Jadi pikiran manusia memiliki berbagai fungsi yang salah satunya adalah fungsi bahasa. Jadi orang bisa berbahasa karena memang memiliki kemampuan ini dan bukan karena dilatih berulang-ulang supaya bisa dan terbiasa.

Semakin anak tersebut berkembang kemampuan berpikirnya, maka kemampuan berbahasanya pun akan ikut berkembang dikarenakan orang berpikir menggunakan bahasa. Apapun yang ada di dalam pikiran kita dikemas dalam bahasa baik itu penjelasan secara oral di otak kita maupun gambar bergerak yang dissertai dengan penjelasan menggunakan bahasa. Jadi jelas sudah bahwa perkembangan otak diikuti dengan perkembangan bahasa. Sering pula, kemampuan kognitif seseorang dilihat dari kemampuan berbahasanya. Apabila seseorang perkembangan bahasanya tergolong lambat, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitifnya lambat juga. Oleh karena itu, para ahli kognitivisme atau inatisme beranggapan bahwa untuk mampu membuat orang menguasai bahasa, maka kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan adalah kegiatan-kegiatan yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir dan mengolah informasi untuk disimpan di dalam otak.

Menurut teori kognitivisme awal, proses kognitif seseorang meliputi 4 tahapan yaitu receiving (menerima informasi), organizing (menyusun informasi), storing (menyimpan informasi), dan retrieving (mengeluarkan/menyampaikan informasi tersebut). 4 tahapan ini dikenal dengan information processing process. Kemudian, siswa dianggap belajar apabila siswa mampu melakukan retrieving informasi atau menyampaikan informasi yang telah dia pelajari tersebut. Semakin banyak informasi yang diterima oleh siswa, maka akan semakin berkembang pikirannya. Apabila pikirannya semakin berkembang, maka semakin berkembang pula kemampuan bahasanya.

Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dipercaya mampu mengembangkan kemampuan kognitif seseorang adalah melalui kegiatan berdiskusi, debat, bermain peran, melakukan presentasi, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang menjembatani agar pikiran siswa semakin berkembang. Lalu, apa pengaruh teori belajar ini terhadap pembelajaran bahasa? terjadi perubahan yang signifikan di mana muncul pendekatan, metode, strategi, dan teknik pengajaran yang bersumber dari teori belajar ini. Selain itu, pembelajaran bahasa tidak lagi menggunakan strategi dan teknik dalam behaviorisme seperti repetition, copying, imitating, drilling, dll. dan lebih mengimplementasikan kegiatan seperti roleplay, story telling, retelling story, diskusi, debat, presentasi, dll. Kini strategi dan teknik tersebut banyak mewarnai pendidikan bahasa yang ada di dunia.

nah itu dia pembahasan mengenai teori belajar kognitivisme dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa. Semoga bermanfaat bagi teachers sekalian.

Friday, July 19, 2019

5:29 PM

Behaviorisme dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa

Hai teachers… kali ini saya akan membahas mengenai teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran bahasa. Meskipun teori ini adalah teori lama dan sudah banyak yang tidak menggunakannya, tidak ada salahnya untuk mengetahui teori ini untuk menambah pengetahuan teachers sekalian. So, check this out.

Teori belajar behaviorisme ini sangat dipengaruhi oleh karya-karya behaviorists terkenal seperti Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skinner. Namun saya akan membahas teori ini dari teori yang diajukan oleh Pavlov dan Skinner.




Mari kita mulai pembahasa dengan membahas Ivan petrovic pavlov atau dikenal dengan nama Pavlov psikolog yang berasal dari Rusia terlebih dahulu. Beliau pernah membuat ekseprimen dengan menggunakan anjingnya sendiri. Tiap hari anjingnya diberikan makan dan didahului dengan membunyikan bel tanda makanan disiapkan. Karena terbiasa mendengar bel tersebut, maka si anjing selalu mengeluarkan air liur yang menandakan bahwa anjing tersebut lapar. Kemudian, suatu hari Pavlov dengan sengaja hanya membunyikan bel saja tanpa memberikan makanan kepada anjingnya. Lalu apa yang terjadi? Anjing tersebut tetap mengeluarkan air liur yang menandakan bahwa ia lapar. Hal ini dikarenakan oleh faktor kebiasaan yang dijalani anjing tersebut dengan mendengarkan bunyi bel. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku organisme dapat dihasilkan melalui stimulus atau rangsangan yang tepat. Apabila rangsangan tersebut dikontrol secara berulang, maka dapat menghasilkan respon yang terkontrol pula. Oleh karenanya stimulus jenis ini disebut controlled stimulus dan respon yang dihasilkan disebut dengan controlled reponse. 

Eksperimen Pavlov ini kemudian dilanjutkan oleh B.F Skinner yang melakukan eksperimen dengan menggunakan tikus. Tikus miliknya diletakkan di dalam kotak (terkenal dengan sebutan Skinner box) dan diajarkan untuk memencet tombol yang ada di dalamnya. Setiap si tikus memencet tombol, maka akan keluar makanan. Hal ini terjadi berulang-ulang dikarenakan si tikus ingin makanan, maka ia memencet tombol tersebut. Maka, hal yang bisa diambil di sini adalah organisme akan melakukan sesuatu apabila ia diberikan rewards atau hadiah. Oleh karena itu, Skinner mengajukan teori yang disebut dengan reinforcements and punishment. Reinforcement itu ada dua yaitu positif dan negative. Reinforcement positif adalah hal-hal positif yang diberikan untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan untuk bisa terulang kembali. Misalnya dengan memberikan permen, makanan, atau hadiah-hadiah lainnya yang membuat orang mau mengulangi perilakuknya di kemudian hari. Lalu, reinforment negatif adalah mengurangi hal-hal negatif apabila orang yang diajar sudah melakukan hal yang kita harapkan. Misalnya, mengurangi marah-marah atau menghukum orang tersebut dikarenakan orang tersebut telah menunjukan perilaku yang kita inginkan. Sedangkan punishment adalah hukuman yang diberikan agar orang tersebut tidak mengulangi perbuatan yang tidak diharapkan dan malah menunjukan perilaku yang diharapkan. Oleh karena itu, jaman dulu ketika siswa salah mengucapkan bahasa akan diberikan hukuman agar siswa tersebut bisa menggunakan bahasa sampai benar. 

Kemudian apa kaitannya dengan pemerolehan bahasa? Bahasa diperoleh karena dilakukan berulang-ulang. Orang bisa berbahasa dikarenakan terbiasa dan dipergunakan sehari-hari. Oleh karena itu, para ahli behaviorisme beranggapan bahwa latihan terus menerus dengan menggunakan repetition, imitation, dan drilling adalah cara yang tepat agar orang yang diajar bisa terbiasa menggunakan bahasa yang diajarkan. Sebagai contoh seorang anak diberikan pertanyaan “How are you?” dan diajarkan menjawab “I am fine” dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Alhasil ini akan menjadi sebuah kebiasaan di mana ketika anak tersebut ditanya “how are you?”, maka akan otomatis dijawab “I am fine”. Hal ini sama hal nya dengan eksperimen Pavlov di mana anjingnya dilatih terus menerus untuk mendengarkan bel setiap akan diberikan makan. Eksperimen Pavlov dan Skinner memberikan sumbangsih terhadap cara-cara mengajar bahasa dengan cara imitating, copying, repeating, memberikan stimulus yang dibutuhkan, dan menerapkan reinforcement dan punishment. Oleh karena itu, teknik-teknik seperti ini masih banyak kita jumpai dalam pembelajaran bahasa Inggris di dalam kelas meskipun banyak ahli-ahli (khususnya ahli yang berasal dari US dan Australia yang kental dengan interaksionisme dan Konstruktivismenya) menyatakan bahwa behaviorisme tidak terlalu signifikan dalam pemerolehan bahasa. Nah sekarang, tergantung teachers sekalian bagaimana menilainya.

Nah itu dia pembahasan mengenai teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran bahasa. Semoga bisa membantu teachers sekalian.

7:57 AM

Self-assessment untuk Pelajaran Listening

Hai teachers... Ketika melakukan asesmen dalam pembelajaran di kelas, sangat penting mengetahui informasi siswa terkait dengan materi yang diajarkan. Hal ini untuk mengetahui feedback yang dapat kita ambil terkait dengan materi yang diajarkan. Pengumpulan informasi ini dapat melalui pemberian asesmen diri atau yang lebih kita kenal dengan self assessment. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas mengenai self assessment pada pembelajaran mendengarkan (Listening). Check this out.


Asesmen diri adalah salah satu jenis asesmen otentik yang memberikan mengenai gambaran seseorang terkait dengan sebuah program yang sedang dijalaninya. Jika dikaitkan dengan pembelajaran, maka asesmen diri ini berkaitan dengan gambaran informasi siswa terkait dengan pembelajaran yang sedang diikuti. Asesmen diri ini sangat membantu guru untuk memperoleh informasi terperinci dari setiap siswa terkait dengan pembelajaran yang diikuti dikarenakan siswa tersebut memberikan informasi terhadap dirinya dengan mengisi sendiri instrument asesmen diri. Namun, terkadang banyak guru yang enggan menggunakan instrument ini dikarenakan guru lebih suka menggunakan instrument yang berorientasi pada nilai seperti rubric penilaian. Asesmen diri ini juga sebenarnya bisa digunakan dalam penilaian. Sebagai contoh, asesmen diri yang diisi oleh siswa dengan 2 rentang pilihan yaitu jawaban “Ya” dan “Tidak”. Kemudian guru juga mengisi asesmen yang terkait dengan masing-masing siswa dengan butir pertanyaan/pernyataan yang sama. Apabila respon siswa A menjawab “Ya” terkait dengan satu pernyataan positif dan guru juga memberikan jawaban “Ya” kepada siswa terkait dengan butir pernyataan positif yang sama, maka siswa tersebut akan mendapat nilai 1. Apabila berbeda, maka siswa akan mendapat nilai 0. Namun perlu diingat bahwa pemberian nilai ini hanya bisa digunakan sebagai penunjang saja dikarenakan pemberian nilai siswa bobotnya masih lebih besar pada penggunaan rubrik penilaian.

Nah kali ini, penulis ingin memberikan salah satu contoh asesmen diri yang bisa digunakan pada pelajaran listening. Asesmen diri ini mencakup aspek bahasa pada kemampuan mendengarkan atau listening aspects. Adapun aspek bahasa pada listening mencakup

Words recognition
Kemampuan mengenali kata-kata yang didengarkan
Words perception
Kemampuan memahami makna kata-kata yang didengarkan
Grammar Awareness
Pengetahuan akan struktur kalimat yang digunakan
Comprehension
Kemampuan memahami makna yang disampaikan

Asesmen diri ini digunakan pada materi “Sapaan”. Dari satu contoh ini, teachers sekalian dapat memodifikasinya dengan mengganti topik atau materi yang tercantum di butir pernyataan di bawah ini yang ditandai dengan warna merah. Mohon diingat bahwa instrument ini digunakan pada materi listening berupa mendengarkan percakapan. Sehingga instrument ini tidak bisa digunakan pada materi speaking, reading, apalagi writing. Dan untuk diingat, pernyataan di bawah ini bisa dimodifikasi menjadi checklist dengan menambahkan kolom "Ya" dan "Tidak" di sebelah pernyataan.



No.
Pernyataan
1
Saya mampu mengenali kata-kata di dalam percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
2
Saya mengerti makna kata-kata di dalam percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
3
Saya mengetahui tenses yang digunakan di dalam percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
4
Saya mengetahui dengan pasti kenapa tenses tersebut digunakan di dalam percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
5
Saya memahami makna ungkapan-ungkapan sapaan yang digunakan di dalam percakapan yang saya dengarkan
6
Saya memahami tujuan penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut di dalam percakapan yang saya dengarkan 
7
Saya memahami makna idiom yang digunakan di dalam percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
8
Saya memahami jalan percakapan mengenai sapaan yang saya dengarkan
9
Saya mampu mengisi percakapan mengenai sapaan yang rumpang dengan jawaban yang benar
10
Saya mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan mengenai percakapan yang saya dengarkan